Menurut Buku "Harahap Pargarutan" sendiri,
asal-usul Marga Harahap disebutkan di
buku itu:
Setelah 90 generasi Suku Bangsa Batak
mengisolasi diri di kawasan Danau Toba (?),
suku bangsa Batak menjadi dua (2)
golongan, yakni Golongan keturunan Raja
ISUMBAON, dan golongan keturunan GURU
TATEA BULAN.
Guru Tatea Bulan, mempunyai lima (5) anak:
1. Raja Biak-biak
2. Tuan Saribu Raja
3. Mangaraja Limbong
4. Mangaraja Salaya
5. Mangaraja Malau
Tuan Saribu Raja yang menurunkan Marga
HARAHAP, mempunyai tiga (3) anak:
1. Mangaraja Lontung
2. Mangaraja Borbor
3. Mangaraja Babiat
Orang Marga HARAHAP adalah keturunan
Mangaraja Borbor, yang punya dua (2) anak:
1. Bala Samahu
2. Datu Altokniaji
Bala Samahu punya satu (1) anak:
1. Datu Tala Dibabana
Datu Tala Dibabana, punya dua (2) anak:
1. Rimbang Saudara
2. Sahang Mataniari
Rimbang Saudara, punya enam (6) anak:
1. Datu Pampangbalasaribu
2. HARAHAP
3. Tanjung
4. Pusuk
5. Datu Pulungan
6. Nahulau
Penyebutan marga HARAHAP di belakang
nama, disebutkan dimulai sejak cucu
Rimbang Saudara dari HARAHAP. Jadi
HARAHAP adalah NAMA, yang kemudian
menjadi marga keturunannya.
HARAHAP, punya satu (1) anak:
1. Ompu ni Marguru HARAHAP
Ompu ni Marguru, punya empat (4) anak:
1. Si Misang Andor HARAHAP
2. Si Andor Misang HARAHAP
3. Ompu Toga Langit HARAHAP
4. Manjungkit Tano HARAHAP
Si Misang Andor, punya dua (2) anak:
1. Tamanalom HARAHAP
2. Ompu Gunung HARAHAP
Disebutkan, keturunan Tamanalom ada yang
pindah ke LUAT (PORTIBI), Padanglawas,
kemudian mendirikan kerajaan disana, dan
ada yang menurunkan HARAHAP Mompang.
Ompu Gunung, menurunkan HARAHAP
Simasom dan HARAHAP Joring di Angkola
Julu. Keturunan HARAHAP Simasom, ada
yang pergi ke Hanopan Sipirok, Hanopan
Padangbolak, dan Janji Lobi Padangbolak.
Si Andor Misang, punya dua (2) anak:
1. Bangun Dibabuat HARAHAP
2. Bangun Dibatari HARAHAP
Mereka berdua masih bermukim di Toba,
anak-anaknya kemudian migrasi ke Selatan,
khususnya ke Angkola dan Padangbolak.
Bangun Dibabuat, punya dua (2) anak:
1. Ompu Sumur HARAHAP
2. Tunggal Huayan HARAHAP
Ompu Sumur, migrasi ke Angkola dan
mendirikan kerajaan Pijorkoling, Angkola
Jae, kemudian diberi gelar Mangaraja Imbang
Desa.
Tunggal Huayan, masih tinggal di Toba (desa
Sibatangkayu), menikah dengan boru
Situmorang dan punya satu anak (Mangaraja
Ompun Jurung HARAHAP)
Bangun Dibatari, punya lima (5) anak:
1. Sutan Nabuttu HARAHAP
2. Ompu Bilik HARAHAP
3. Mangaraja Sulappe HARAHAP
4. Sutan Pulungan HARAHAP
5. Si Nasinok HARAHAP
Sutan Nabuttu dan Ompu Bilik disebutkan
pindah ke Morang, Panompuan. Sedangkan
Mangaraja Sukappe dan Sutan Pulungan
pindah ke Pangkal Dolok, Padangbolak. Si
Nasinok, pindah ke Batangonang,
Padangbolak.
Keturunan Sutan Pulungan, disebut-sebut
juga ada yang pindah ke Sababalik,
Padangbolak; Simatonggong, Padangbolak;
dan ke Marancar Godang.
Disebutkan, keturunan Ompu Toga Langit dan
Manjungkit Tano (anak Ompu ni Marguru),
ada yang pindah ke Hutaimbaru.
Ompu Toga Langit (Ompu Toga Lagijit,
disebut juga Manjungkit Langit), punya dua
(2) anak:
1. Ompu Sodogoron HARAHAP
2. Si Maujal (?)
Ompo Sodogoron, menurunkan marga
HARAHAP di Sabungan Julu, Hutaimbaru
(Angkola Julu).
Si Maujal (?), menurunkan marga HARAHAP
di Sidangkal, yang keturunannya menyebar
ke Huta Losung, Sitombol, Lasung Batu,
Panyanggar, Sabungan Jae, dan Manegen.
HARAHAP Sidangkal, disebutkan banyak
menyebar ke Padangbolak.
Manjungkit Tano, punya dua (2) anak:
1. Si Maliot HARAHAP, di Binubu
2. Si Maliotan HARAHAP, di Simandiangin
Binubu
Si Maliotan, punya dua (2) anak:
1. Sende HARAHAP
2. Bulu HARAHAP
Sende, punya anak:
Ja Bosar HARAHAP, disebut-sebut
menurunkan HARAHAP Simatongtong di
Pagarutan, yang kemudian menyebar ke
Halumpang dan Siloting.
HAMPIR SELURUH KELUARGA HARAHAP
BERMIGRASI DARI TOBA, MENCARI TANAH
PEMUKIMAN BARU KE BAGIAN SELATAN.
Silsilah Marga HARAHAP
semua berawal dari tak tahu menjadi tahu didunia maya kampung kami yaitu HUTA SAROHA HORASSS..............
Penayangan bulan lalu
Selasa, 18 November 2014
Tarombo marga harahap
Selasa, 04 November 2014
Beberapa acara Adat Batak
1.Upacara Adat Batak MangIrdak atau
Mangganje atau Mambosuri (adat tujuh
bulanan)
Upacara Adat Mangirdak adalah suatu
Upacara yang diperuntukkan kepada
Seorang Ibu yang sedang Mengandung
Bayi yang Usia Kandungan Bayi yang
akan Lahir tersebut sudah mencapai
Tujuh Bulan.
2.Upacara Adat Batak Martutu Aek
Upacara Adat Martutu Aek adalah suatu
Upacara yang diperuntukkan untuk
Pemberian Nama dari Bayi yang sudah
seharusnya diberi Nama oleh Pihak
Keluarga,Sayangnya Upacara ini sudah
Jarang dilakukan oleh Orang Suku Batak
karena Bertentangan dengan Ajaran
Agama.
3.Upacara Adat Batak Mangharoan
Upacara Adat Mangharoan adalah suatu
Upacara yang dilakukan setelah
Kelahiran Seorang Bayi yang sudah
Berumur Dua Minggu,untuk Menyambut
Bayi tersebut ke Satu Keluarga yang Baru.
4.Upacara Adat Batak Hamatean
Upacara Adat Hamatean adalah suatu
Upacara Adat Batak untuk
Kematian,Upacara Adat Batak ini
disesuikan dengan Adat Batak
Toba,Apakah Adat Batak yang akan
dibuat untuk Kematian Seseorang
tersebut.Hal ini berhubungan dengan
beberapa Jenis Upacara Adat Batak
untuk Kematian,Ada Sari Matua,Saur
Matua,Maulibulung dan lain-lain.
5.Upacara Adat Batak Manulangi
Upacra Adat Manulangi adalah suatu
Upacara yang diperuntukkan kepada
Orang Tua yang sudah Lanjut
Usia,kegiatan Menyuapi/Menyulangi ini
dilakukan oleh Anak dan Cucu dari Orang
Tua yang sudah Lanjut Usia
tersebut,Makanan yang diberikan
merupakan Makanan yang di Sukai
Orang Tua tersebut atau Makan Terbaik
yang bisa diberikan oleh Anak dan Cucu.
6.Upacara Adat Batak Mangongkal Holi
Upacara Adat Mangongkal Holi adalah
suatu Upacara Adat Panggilan Tulang
Belulang Orang Tua yang sudah
Meninggal,dan Tulang dari Orang Tua
tersebut dimasukkan ke dalam Tugu atau
Monumen untuk Menghormati Orang Tua
yang telah Meninggal Dunia.
7.Upacara Adat Batak Marhajabuan
Upacara Adat Marhajabuan adalah suatu
Upacara Adat Pernikahan sesuai dengan
Adat Batak Toba,Marhajabuan Artinya
Berumah Tangga Maksud dan Tujuannya
Agar setiap Masyarakat Batak yang
Berumah Tangga harus melalui sebuah
Pesta Adat,Tidak boleh hanya di Baptis
di Gereja atau hanya sekedar Akad Nikah
saja,Upacara Marhajabuan harus juga
disertakan dalam Kegiatan atau Acara
Pernikahan tersebut.
Kamis, 27 Juni 2013
BENDA – BENDA PUSAKA BATAK
1. Solam Mulajadi.
Solam Mulajadi atau Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.
2. Piso Sipitu Sasarung
Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya. Pada zaman dahulu kala setelah gunung pusuk buhit meletus 73.000 tahun yang lalu seorang keturunan Siraja Batak bernama Raja Batorusan yang selamat dari musibah tersebut pergi ke gunung pusuk buhit yang sekarang dan diatas gunung tersebut ada sebuah telaga. Setibanya di telaga tersebut dia melihat 7 orang putri turun dari langit dan mandi di telaga tersebut.
Raja Hatorusan pun tercengang dan heran. Maka iapun mencuri pakaian salah satu dari purti tersebut, sehingga putri tersebut pun tidak dapat terbang lagi ke langit dan iapun mempersuntingnya menjadi istrinya.
Dari legenda inilah awal dari Piso Sipitu Sasarung yang mana melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.
3. Piso Silima Sasarung
Pisau inilah pisau 1 sarung tetapi di dalamnya ada 5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.
4. Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan & kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.
5. Piso Siseat Anggir
Piso ini biasa digunakan pada saat membuat obat atau ilmu. Piso ini bertujuan hanya untuk memotong anggir (jeruk purut).
6. Sunggul Sohuturon
Sunggul Sohuturon ini terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul ini bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.
7. Pukkor Anggir
Pukkor Anggir ini digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya pada saat menusuk sebelum anggir tersebut di potong.
8. Tutu
9. Sahang
Sahang ini adalah yang terbuat dari gading gajah. Sahang ini digunakan tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.
10. Gupak
Gupak ini biasanya digunakan memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.
11. Piso Halasan
Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan :
“Yang tak mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus pisau Raja Sorimangaraja. Pisau Raja mendatangkan rejeki dalam kehidupan. Legenda Pisau Halasan:
Pada zaman dahulu seorang raja yang merantau ke kota Balige sudah lama tak mempunyai keturunan. Dengan demikian dia memanggil seorang anak sakti untuk menolong dia bagaimana caranya agar dia mempunyai keturunan. Maka anak sakti tersbeut menyatakan :
“Ambil besi dari dalam batu kemudian tempahlah besi tersebut dan buatlah pedangmu dan sebutlah namanya Piso Halasan, maka kau akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Dengan tulus hati Tuan Sorimangaraja melaksanakannya dengan menggunakan petir untuk memecahkan batu yang besar, diapun mendapatkan besi tersebut dan menempahnya menjadi pisau. Demikianlah asal-muasal Pisau Halasan.
12. Piso Tobbuk Lada
Piso Tombuk Lada adalah Pisau Kecil yang biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.
13. Hujur Siringis
Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.
14. Tukkot Sitonggo Mual
Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.
15. Piso Solam Debata
Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.
16. Piso Gaja Doppak
Piso Gaja Doppak ini adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping, dibelakang akan jauh. Biasa pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.
BENDA – BENDA PUSAKA BATAK
1. Solam Mulajadi.
Solam Mulajadi atau Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.
2. Piso Sipitu Sasarung
Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya. Pada zaman dahulu kala setelah gunung pusuk buhit meletus 73.000 tahun yang lalu seorang keturunan Siraja Batak bernama Raja Batorusan yang selamat dari musibah tersebut pergi ke gunung pusuk buhit yang sekarang dan diatas gunung tersebut ada sebuah telaga. Setibanya di telaga tersebut dia melihat 7 orang putri turun dari langit dan mandi di telaga tersebut.
Raja Hatorusan pun tercengang dan heran. Maka iapun mencuri pakaian salah satu dari purti tersebut, sehingga putri tersebut pun tidak dapat terbang lagi ke langit dan iapun mempersuntingnya menjadi istrinya.
Dari legenda inilah awal dari Piso Sipitu Sasarung yang mana melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.
3. Piso Silima Sasarung
Pisau inilah pisau 1 sarung tetapi di dalamnya ada 5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.
4. Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan & kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.
5. Piso Siseat Anggir
Piso ini biasa digunakan pada saat membuat obat atau ilmu. Piso ini bertujuan hanya untuk memotong anggir (jeruk purut).
6. Sunggul Sohuturon
Sunggul Sohuturon ini terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul ini bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.
7. Pukkor Anggir
Pukkor Anggir ini digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya pada saat menusuk sebelum anggir tersebut di potong.
8. Tutu
9. Sahang
Sahang ini adalah yang terbuat dari gading gajah. Sahang ini digunakan tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.
10. Gupak
Gupak ini biasanya digunakan memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.
11. Piso Halasan
Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan :
“Yang tak mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus pisau Raja Sorimangaraja. Pisau Raja mendatangkan rejeki dalam kehidupan. Legenda Pisau Halasan:
Pada zaman dahulu seorang raja yang merantau ke kota Balige sudah lama tak mempunyai keturunan. Dengan demikian dia memanggil seorang anak sakti untuk menolong dia bagaimana caranya agar dia mempunyai keturunan. Maka anak sakti tersbeut menyatakan :
“Ambil besi dari dalam batu kemudian tempahlah besi tersebut dan buatlah pedangmu dan sebutlah namanya Piso Halasan, maka kau akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Dengan tulus hati Tuan Sorimangaraja melaksanakannya dengan menggunakan petir untuk memecahkan batu yang besar, diapun mendapatkan besi tersebut dan menempahnya menjadi pisau. Demikianlah asal-muasal Pisau Halasan.
12. Piso Tobbuk Lada
Piso Tombuk Lada adalah Pisau Kecil yang biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.
13. Hujur Siringis
Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.
14. Tukkot Sitonggo Mual
Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.
15. Piso Solam Debata
Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.
16. Piso Gaja Doppak
Piso Gaja Doppak ini adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping, dibelakang akan jauh. Biasa pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.
BENDA – BENDA PUSAKA BATAK
1. Solam Mulajadi.
Solam Mulajadi atau Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.
2. Piso Sipitu Sasarung
Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya. Pada zaman dahulu kala setelah gunung pusuk buhit meletus 73.000 tahun yang lalu seorang keturunan Siraja Batak bernama Raja Batorusan yang selamat dari musibah tersebut pergi ke gunung pusuk buhit yang sekarang dan diatas gunung tersebut ada sebuah telaga. Setibanya di telaga tersebut dia melihat 7 orang putri turun dari langit dan mandi di telaga tersebut.
Raja Hatorusan pun tercengang dan heran. Maka iapun mencuri pakaian salah satu dari purti tersebut, sehingga putri tersebut pun tidak dapat terbang lagi ke langit dan iapun mempersuntingnya menjadi istrinya.
Dari legenda inilah awal dari Piso Sipitu Sasarung yang mana melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.
3. Piso Silima Sasarung
Pisau inilah pisau 1 sarung tetapi di dalamnya ada 5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.
4. Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan & kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.
5. Piso Siseat Anggir
Piso ini biasa digunakan pada saat membuat obat atau ilmu. Piso ini bertujuan hanya untuk memotong anggir (jeruk purut).
6. Sunggul Sohuturon
Sunggul Sohuturon ini terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul ini bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.
7. Pukkor Anggir
Pukkor Anggir ini digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya pada saat menusuk sebelum anggir tersebut di potong.
8. Tutu
9. Sahang
Sahang ini adalah yang terbuat dari gading gajah. Sahang ini digunakan tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.
10. Gupak
Gupak ini biasanya digunakan memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.
11. Piso Halasan
Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan :
“Yang tak mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus pisau Raja Sorimangaraja. Pisau Raja mendatangkan rejeki dalam kehidupan. Legenda Pisau Halasan:
Pada zaman dahulu seorang raja yang merantau ke kota Balige sudah lama tak mempunyai keturunan. Dengan demikian dia memanggil seorang anak sakti untuk menolong dia bagaimana caranya agar dia mempunyai keturunan. Maka anak sakti tersbeut menyatakan :
“Ambil besi dari dalam batu kemudian tempahlah besi tersebut dan buatlah pedangmu dan sebutlah namanya Piso Halasan, maka kau akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Dengan tulus hati Tuan Sorimangaraja melaksanakannya dengan menggunakan petir untuk memecahkan batu yang besar, diapun mendapatkan besi tersebut dan menempahnya menjadi pisau. Demikianlah asal-muasal Pisau Halasan.
12. Piso Tobbuk Lada
Piso Tombuk Lada adalah Pisau Kecil yang biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.
13. Hujur Siringis
Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.
14. Tukkot Sitonggo Mual
Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.
15. Piso Solam Debata
Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.
16. Piso Gaja Doppak
Piso Gaja Doppak ini adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping, dibelakang akan jauh. Biasa pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.
Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak DAN ARTINYA
- Nasihat
- Doa
- Pengakuan
- Hukum adat
- Menggambarkan sifat manusia
- Untuk menyindir perilaku seseorang
- Pedoman berdemokrasi
- dsb
- Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia pada umumnya, maka umpama adalah seperti peribahasa, sedangkan umpasa adalah seperti pantun
- Sebagaimana layaknya peribahasa, umpama tidak memiliki sampiran, langsung ke tujuan. Contohnya: Jolo dinilat bibir asa nidok hata (Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara)
- Sedangkan umpasa sebagaimana layaknya pantun, pasti memiliki sampiran. Contohnya: Napuran huta napuran Sipoholon (sampiran). Na so olo marguru ima jolma na londongon (isi). (makna secara bebas: orang yang tidak mau belajar adalah orang yang bodoh)
Umpama:
- Ingkon songon poting, lam marisi lam so marsoara (Makna: Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, harus semakin hati-hati berbicara)
- Jempek do pat ni gabus (Makna: sehebat apapun seseorang menutupi kebohongannya, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga)
- Jolo dinilat bibir asa nidok hata (Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara)
- Lambiakmi ma galmit (Makna: Bila orang tua mengeluhkan kelakuan anaknya yang kurang baik, sadarilah bahwa itu karena kekurangan orang tua dalam mendidik anaknya itu)
- Molo litk aek di toruan, tingkiron ma tu julu (Makna: bila ingin menyelesaikan suatu permasalahan, carilah dahulu apa penyebabnya)
Umpasa:
- Niarit tarugi bahen tusuk ni pora-pora. Molo naeng jumpangan uli ingkon olo do loja (Makna secara bebas: Kalau ingin hidup enak harus mau bekerja keras dulu)
- Niluluan tandok hapo dapot parindahanan. Tolap papangan mandok alai ndang tuk jamaon ni tangan (makna secara bebas: berbicara itu mudah tapi melakukannya adalah sulit)
- Urat ni nangka ma tu urat ni hotang. Tudia hamu mangalangka di si ma dapotan (makna secara bebas: ke mana kamu pergi, semoga di situ dapat keberuntungan)
- Salimbakbak salimbukbuk solot di pea-pea. Sahali pe margabus matua tano ndang porsea (makna secara bebas: sekali saja ketahuan berbohong, seumur hidup orang tidak akan percaya)
Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak
" Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holan ho do".
(Banyak bintang di langit, hanya satu yang paling terang,
Banyak gadis yang cantik, pujaan hatiku cuma dikau seorang)
FALSAFAH
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.
Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).
Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).
Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).
UMPASA NI NAPOSO BULUNG.(Buat orang-orang muda)
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.
Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.
Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do
Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata
UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.(Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna
Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.
Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.
Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.
UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah)
Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman
Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut
Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha
Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.
UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.
Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.
Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.
Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.
Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.
Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.
Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.
Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.
Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.
AKKA UMPASA NA ASING
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.
Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.
Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.
Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman
Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
xiii. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.
Age pe padao-dao,Tondyttai tong marsigomgoman. Artinya Walaupun kita ber jauh-jauhan tetapi hati dan jiwa kita akan selalu berdekatan.
Ia jaman on jaman canggih, ulang lupa hubani Tuhan, Artinya walaupun jaman sudah canggih tetapi jangan lah melupakan tuhan.
Sinaha pe nini halak, ulang lupa bani horja, Artinya
Rajin ma hita marminggu, ase tong-tong ihasomani Tuhanta, Artinya RajinLah Selalu Memuji tuhan ke gereja agar kita selalu dilindungi tuhan.
Andohar Indonesia jaya,Rakyat ni pe homa makmur, Artinya Senjata orang indonesia Meriam dan martir, setelah indonesia merdeka rakyatpun menjadi makmur.
# I lambung passa-passa, Tubu bonani tobu
Age aha pe namasa,Hita ulang mahua, Artinya Apapun yang Terjadi Kita Selalu Tenang.
# Ratting ni hayu bor-bor, ibaen hu pingging pasu
Anggo rajinmartonggo, Jumpahan pasu-pasu, Artinya Jika anda rajin Menjalankan Adat..anda akan selalu mendapat berkah.
# Boras ibagas supak, ibaen huparasanding
Horas nasiam namulak, horas homa hanami na tading, Artinya Selamat lah anda yang bepergian..dan damailah anda yang ditinggal.
# Borasni purba tua, iboan hu tiga balata
Horas ma hita sayur matua, itumpak-tumpak Naibatanta, Artinya Damai Sejahteralah Bagi Orang Tua dan di dalam perlindungan tuhan kita.
# Andor hadukka ma togu-togu ni lombu, togu-togu ni horbo, itogu hu Ajibata
Horas ma hita sayur matua, patogu-togu pahompu, das mar nini mar nono,
ipasu-pasu Naibatanta, Artinya Damai Sejahtralah bagi orang tua,Mengajar-ajarin anak sampai kecucu-cucunya agar selalu diberkati tuhan kita.
# Urat ni nangka, urat ni hotang
Hujape hita manlangkah, sai dapot-dapotan, Artinya Kemanapun kita melangkah Akan selalu mendapat berkah.
# Tubuh ma sanggar dohot tobu, dohor hupagar kawat
Tubuh ma anak pakon boru, jadi jolma na marpangkat Artinya Lahirlah Anak lelaki dan anak perempuan dari kamu hingga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.
# Urat ni riba dagei iboan hu Sukadame
Ulang bei sai marbadai, sai roh ma uhur dame, Artinya Janganlah Anda selalu bertengkar..tetapi Ajaklah untuk selalu berdamai.
# Dalan hua Ajibata, adong do tubuh Pisang
Anggo domma marrumah tangga, ulang ma adong hata mandok sirang, Artinya Jika anda sudah berumah tangga,jangan pernah untuk berpisah.
# Tubu sanggar dohot tobu i dolok-dolok
Tubu ma anak pakon boru na mok-mok. Artinya Lahirlah dari pada kamu anak yang sehat dan gemuk.
Age adong parsalisihan, ulang mar sidom-doman, Artinya walaupun anda punya perselisihan..tetapi janganlah anda saling mendendam.
# Tubu ma sanggar dohot tobu, parasaran ni piduk
Tubu ma anak pintar dohot boru na bisuk, Artinya Lahirlah dari padamu anak yang pintar dan putri yang rajin.
# Tubuh ma silanjuyang, itagil lang ra melus
Aha pe lang na hurang, anggo marhasoman Jesus, Artinya Tidak akan berkekurangan jika anda selalu berteman dengan yesus tuhan.
# Sada sikortas kajang, padua kortas hulipat
Sadokah ham marlajang, sada ham do hansa na hudingat
Anggo pusuk uhur, eta ham mandoding-doding
# Hondor ma langge mu, i dolok si Marsolpah
Holong ni ateimu, ingaton ku do ai madokah
# Sihala sibarunje, ruak sihala bolon
Santabi ma bani umbei, dear nalang tarhorom
# Itampul bulu lihom, bulung ni irantingkon
Hatamu do masihol, hape uhur mu manadingkon
# Sedo lak-lak hasundur, haronduk ni buluk ku
Sedo halak hu sukkun, harosuh ni uhurhu
# Tumpak ni piring ledeng, paledang-ledang pahu
Loja do hapeni inang, pagodang-godang kon au
# Laklak itallik-tallik, i lambung ni pea-pea
halak na tahan marsik, ujungni jadi jolma na hasea
# Lak-lakni tamba tua, hoppa mambuat kuah
Pasangap orangtua, tong-tong dapotan tuah
# Lampuyang sakaranjang, bulung ni seng sadiha
Akkula do marganjang, uhur seng ope sadiha
# Marboras ma halawas, i jual hu Belanda
Horas ma nasiam martugas, haganupan wartawan
# Haporas ni silongkung, i huning i tubai
Anggo domma harosuh, ulang isumengi, lang ibadai
# Isuan ma timbaho, isuan manoran-noran
Paubah ma parlaho, ulang songon sapari, ase iharosuhkon hasoman
# Talaktak porling, sogop i bukkulan ni sopo
Indahan ni mata do borngin, ulang lalap ibodei lapo
# Ulang ihondor gumba, timbaho sihondoran
Ulang martonggo rupa, parlaho do sitonggoran
# Anduhur pinurputan, tading iparsobanan
Anggo uhur tinurutan, lang mar parsaranan
# Rage anak ni bintang, rage so hapulhitan
Buei do hata namantin, paima tangan dapotan
# Timbaho ni simarban, ulang mago sanrigat
Age lingot panonggor, ulang lupa pardingat
# Boras sabur-saburan, iboban ni pinggan pasu
Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu
# Itarik gula, itanik songon tali
Age pe otik nasinari, ulang marsurei
# Irlak-irlak ma senter, itoru ni durian
Lang adong labuni jenges, anggo talu do ujian
# Initak ma sambor-bor, boras ronggit-ronggitan
Ijon hita manortor, ulang be borit-boritan
# Lang be tartalgis hon, pagaman ma na ronggos hon
lang be tartangishon, paganan ma na tor-torhon
# Habang ma kapal terbang, mamboan pinggan pasu
Age daoh ham marlajang, ulang lupa ham hubakku.
PODA, SIPAINGOT, BURA DOHOT ANDUNG
from :
http://tanobatak.wordpress.com/2007/04/12/poda-sipaingot-bura-dohot-andung/
PODA
- Pantun hangoluan tois hamagoan.
- Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi.
- Unang marhandang na buruk, unang adong solotan sogot, unang marhata na juruk unang adong solsolan marsogot.
- Tinallik dulang tampak dohot aekna. Pinungka hata (ulaon) unang langlang di tagetna.
- Unang sinuan padang di ombur-ombur, unang sinuan hata nagabe humondur-hondur.
- Anduhur pidong jau sitangko jarum pidong muara, gogo sibahen na butong tua sibahen na mamora, roha unang soada.
- Aek dalan ni solu sian tur dalan ni hoda, gogo mambahen butong, tua sibahen mamora.
- Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na losok mangula jadian rapar mangan.
- Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na padot mangula ido na bosur mangan.
- Singke di ulaon sipasing di baboan, tigor hau tanggurung burju pinaboan-boan.
- Pauk ni Aritonang pauk laho mangula, burju pinaboan-boan dongan sarimatua.
- Hotang-hotang sodohon ansimun sibolaon, hata-hata sodohonon sitongka paboaboaon.
- Handang niaithon na dsua gabe sada, niantan pargaiton unang i dalan bada.
- Hori sada hulhulan bonang sada simbohan, tangkas ma sinungkun nanget masipadohan.
- Ijuk di para-para hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata na oto tu pargadisan.
- Hotang do paninaran hadang-hadangan pansalongan.
- Bogas ni Gaja Toba tiur do di jolo rundut do di pudi, bogas ni Raja Toba tiur do di jolo tota dohot di pudi.
- Dang sibahenon dangka-dangka dupang-dupang, dang sibahenon hata margarar utang.
- Sinuan bulu di parbantoan dang marganda utang molo pintor binahonan.
- Sinuan bulu di parbantoan sai marganda do utang na so binahonan.
- Niduda bangkudu sada-sada tapongan, sai marganda lompit do utang ia so jalo-jalo binahonan.
- Manggual sitindaon mangan hoda sigapiton, tu jolo nilangkahon tu pudi sinarihon.
- Langkitang gabe hapur, nahinilang gabe mambur.
- Molo duri sinuan duri ma dapoton. Ia bunga sinuan bunga ma dapoton, ia naroa sinuan naroa ma dapoton.
- Jolo marjabu bale-bale asa marjabu sopo, jolo sian na tunggane asa tu naumposo molo makkuling natunggane manangi ma naumposo.
- Ingkon manat marpiu tali, ingkon pande marjalin bubu, ingkon manat mangula tahi, ingkon pande mangula uhum.
- Masihurha manukna unang teal buriranna, masiajar boruna unang suda napuranna.
- Tuit sitara tuit tuit pangalahona, natuit anak i mago horbona, molo natuit boru mago ibotona.
- Siala il siala ilio, utang juma disingir di halak namalo, singir jadi utang di halak na so malo.
- Magodang aek bila, ditondong aek hualu, mago sideak bibir dibahen pangalualu.
- Santopap bohi sanjongkal andora, ndang diida mata alai diida roha.
- Anduhur pidong jau sitapi-tapi pidong toba, binuat roha jau pinarroha roha toba.
- Gala-gala nasa botohon , manang beha pe laga adong do hata naso boi dohonon.
- Pir eme di lobongan ndang guguton, uli pe paniaran ni dongan ndang langkupon.
- Ndang tuk-tuhan batu dakdahan simbora, ndang tuturan datu ajaran na marroha.
- Songon parsege-sege so seang, sapala seang, seang dohot bota-botana.
- Naihumarojor bola hudonna, naihumalaput tata indahanna.
- Pege sangkarimpang halas sahadang-hadangan, rap mangangkat tu ginjang, rap manimbung tutoru halak namarsapanganan.
- Tinutu gambiri angkup ni sera-sera, pinatonggor panaili, unang hu roha ni deba.
- Unang songon parmahan ni sunggapa, dihuta horbona dibalian batahina, mago dibahen rohana pidom dibahen tondina.
- Sitapi uruk sitapi dibalunde, tu dolok pe uruk tu toruan tong ene, ai aha so uruk sai jalo do pinaune-une.
- Sinintak hotor-hotor, humutur halak-halak asing do timbang dongan asing timbang halak.
- Mimbar tungkap ni tuak, mimbar do nang daina, muba laut, muba do ugarina.
- Muba dolok, muba duhutna, muba luat muba do uhumna.
- Manghuling bortung di topi ni binanga, adong do songon ogung sipatudu luhana.
- Rigat-rigat ni tangan ndang laos rigathonon, rigat-rigat ni hata ndang laos ihuthononton.
- Talaktak siugari, ibana mambahen, ibana mamburbari .
- Hauma sitonang panjangkitan ni langkitang, sai pidom do jolma na olo marhilang.
- Ndang tarhindat gaor-gaor ni hudon, ndang tarsoluk harajaon hasuhuton.
- Tanduk ni ursa mardangka-dangka suhut di hasuhutonna raja marhata-hata.
- Tanduk ni ursa margulu-gulu salohot benge. (na so dohot pe diboto aha namasa)
- Pansur tandiang di rura ni aek puli, na pantun marroha/marina ido tiruan nauli.
- Martaguak manuk di toruni bara ruma, napantun marnatoras, ido halak namartua.
- Habang ambaroba paihut-ihut rura, sapala naung ni dohan, unang pinauba-uba.
- Pasuda-suda arang so himpal bosi. (patua-tua daging pasuda-suda gogo.)
- Holi-holi sangkalia, sai marhormat do langkani ama mida tangan ni ina.
- Masuak ranggas di degehon Sinambela, molo tung i nama dibuat nasoala, nanggo torang diboto deba.
- Bosi marihur tinopa ni anak lahi, matana tinallikkon tundunma mangonai
- Dipangasahon suhulna do matana, dipangasahan matana do suhulna.
- Ndang dao tubis sian bonana.
- Pitu hali taripar di aek parsalinan, laos so muba do bolang ni babiat.
- Somalna do peamna.
- Hapalna mattat dok-dokna, dok-dokna mattat hapalna.
- Unang martata ilik sada robean.
- Gala gumal bulu andalu sangkotan ni bonang, asa monang maralohon musu, pinatalu roha maralohon dongan.
- Garang-garang ni luatan nionjat tu harang ni hoda, molo marbada hula-hula, boruna mandabu tola. Molo marbada boru, hula-hula mandabu tola. Molo marbada anggi, hahana mandabu tola.
- Unang patubi-tubi manuk pasalpu-salpu onan.
- Unang dua hali tu aek natua-tua.
- Hotang hotang sodohon ansimun sobolaon. Hata-hata sodohonon tongka sipaboa-boanan, guru ni hata naso dohonon, guru ni juhut naso seaton.
- Ndang taruba babi so mangallang halto.
- Holi-holi sangkalia, tading nanioli dibahen nahinabia.
- Jinama tus-tus tiniop pargolangan, tuk dohonon ni munsung dang tuk gamuon ni tangan.
- Balik toho songon durung ni Pangururan, sianpudi pe toho asal haroro ni uang.
- Sanggar rikrik angkup ni sanggar lahi, dongan marmihim jala donganna martahi-tahi.
- Otik pe bau joring godang pe bau palia.
- Tinompa ni pinggan paung, molo domu songon namaung-aung, ia dung sirang songon naginaung-gaung.
- Madungdung bulung godang tu dangka ni bulu suraton, marunung namarroha molo adong uli buaton.
- Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, Parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
- Ia arian martali-tali nabontar, ia borngin martali-tali narara. (ia dompak sarupa jolma ia tundal sarupa begu)
- Sampilpil di pudina haramonting di jolona, sude halak magigi dibahen pangalahona.
- Tanduk ni lombu tanduk ni lombu silepe, molo monang marjuji sude sidok lae ia talu sude mambursik be.
- Najumpang gabe natinangko molo so malo, natinangko gabe najumpang molo malo.
- Taos rampe ni hajut, ditunjang ampapaluan, mate parjuji talu ndang adong ni andungan, andungan i annon sotung ro utang taguhan, soandungan i anon dang diboto dongan salumban.
- Siguris lapang ni begu.
- Sipansur ni aek nilatong.
- Sipultak pura-pura siusehon pargotaan.
- Siallang indahan ni begu.
- Siallang sian toru ni rere.
- Dompak sarupa jolma tundal sarupa begu.
- Binarbar simartolu langkop ni panutuan.
- Situlluk namardai, sidilati panutuan.
- Partiang latong, hau joring parira, partangkula nabara. (Panirisanna pe malala bagasna pe malala)
- Sidegehon papan namungkal, sitangkup ihurni hoda pudi.
- Sitahopi api songon ulok dari.
- Sitortori na so gondangna.
- Sihohari ranggiting.
- Bintatar pandidingan, simartolu parhongkomna, sidok hata hagigihan soada hinongkopna.
- Sirotahi pangananna.
- Poring sitorban dolok, manuk sisudahon.
- Sisopsop rentengna.
- Sibondut ranggas nagaung-gaung.
- Silompa lali nahabang.
- Sialap manaruhon.
- Sibola hau tindang, sipadugu horbo sabara.
- Sipatubi-tubi manuk, pasalpu-salpu onan.
- Sitangko bindana.
- Sipadomu pardebataan tu parsombaonan.
- Siaji pinagaranna.
- Soban bulu, dongan musu.
- Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
- Siuntei naigar, siasomi na asom, sisirai na ansim.
- Tongka dua pungga saparihotan.
- Gala-gala naso botohon, muruk pe iba adong do hata nasoboi dohonon.
- Unggas jala andalu, bungkas jala mabalu.
- Datu mangan saputna, raut mangan ompuna.
- Antuk nabegu soro ulu balang.
- Bagot namadung-dung tu pilo-pilo marajar, tading ma nalungun roma na jagar.
- Porda marungrung mulakma tu songkirna, Horbo manurun mulakna tu barana, hot ma doal di sangkena, pinggan di rangkena.
- Amani bogot bagit, amani bagot so balbalon, lungun pe nasai laonna i, tuhirasna tu joloan ni arion.
- Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, ia torop hahana toropma nang anggina.
- Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, torop ma natoropi tu toropma nasopiga.
- Mangordang di juma tur, manabur di hauma saba, hea do mauli bulung nang pe anak sasada.
- Malos ingkau rata riang-riang pinatapu-tapu, molo manumpak Debata di ginjang naung tungil olo jadi napu.
- Naung pardambirbiran, gabe pardantaboan, jolma naung hagigian gabe jadi sihalomoan.
- Loja siborok manjalahi guluan, sai mutu do rohani jolma manjalahi hangoluan.
- Sai tiurma songon ari, sai rondangma songon bulan, sai dapot najinalahan tarida naniluluan.
- Sinepnep mauruk-uruk silanian ma aek toba, nametmet unang marungut-ungut namagodang unang hansit rohana.
- Magodang ma aek godang di juluan ni aek raisan, mandao ma ianggo holso sai roma parsaulian.
- Niraprap hodong, tinapu salaon, sinok do mata modom, musu unang adong be si jagaon.
- Sai tutonggina ma songon tobu, tu assimna songon sira, magodang ma naumetek sai mangomo partiga-tiga.
- Sirambe nagodang ma tu sirambe anak-anak, gok ma sopo nabolon maruli sopo si anak-anak.
- Pahibul-hibul tiang patingko-tigko galapang, pamok-mok namarniang pabolon-bolon pamatang.
- Nabingkas do botik gaja dibahen botik aili, bingkas si alali dibahen sipinggiri.
- Nidanggurhon jarum tu napot-pot ndang di ida mata alai diida roha.
- Dirobean pinggol tubu di nahornop pangidai jorbing anak ni mata natingkos na ni idana.
- Madung-dung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, marunung-unung namaroha molo adong uli buaton.
- Diihurpas batu tarida oma, molo adong tuhas uasi (gana) alona.
- Binarbar bagot tarida pangkona, nungnga tangkas dapot dihaol tinangkona.
- Manuk-manuk hulabu ompan-ompan ni soru, dang pangalangkup jolmai molo di patudu parboru.
- Dapot do imbo dibahen suarana, tarida ursa dibahen bogasna.
- Sada sanggar rik-rik, padua sanggar lahi, donganna mar mihim-mihim, jala donganna martahi-tahi.
- Binarbar rikrik tarida pangko, dos do utang ni parmitmit utang panakko.
- Aus nabegu adang namalo.
- Manunjang dibalatuk, marboa di tapian.
- Nungnga tardege pinggol ni dalan.
- Masuak sanggar mapopo hadudu.
- Parraut si etek-etek.
- Marsanggar-sanggar.
- Nirimpu soban hape do bulu, nirippu dongan hape musu.
- Sibalik sumpa sipatundal ni begu.
- Marbuni-buni tusa di panjaruman. (marbuni hata ditolonan)
- Disarat hodongna mangihut lambena, sae gorana, lea rohana di pandena.
- Disuru manaek ditaba di toru.
- Sarung banua, monsak humaliang bogas, tata natinutungan, marimbulu natinanggoan.
- Marurat ni langgumgum, marparbue di pandoran, patampak-tampak hundul pulik-pulik hata ni dohan.
- Dang tarbahen sasabi manaba hau, dang tarbahen tangke mangarambas.
- Timbang ma daon ni natutu, gana daon ni torpa (daho).
- Tiris ni hudon tu toru, tiris ni solu do tu ginjang.
- Naolo manutung-nutung, naolo mangan sirabun, naolo manangko naolo mangan sirabun.
- Disi pege mago disi manutu-nutu.
- Disi banggik maneak disi asu martunggu.
- Ndang bolas manaputi ia soadong bulung, dang bolas mangarahuti ia soadong tali.
- Andalu sangkotan ni bonang. (manggarar ma natalu, siadapari gogo)
- Sisoli-soli uhum, siadapari gogo.
- Dongan sotarhilala, musu sohabiaran.
- Asa sibarung doho si bontar andora, tung taranggukkon ho so binoto lapang ni gora.
- Tu ginjang manjalahi na rumun tu toru manjalahi na tumandol.
- Tinallik hodong bahen hait-hait ni palia, tagonan na martondong, sian na marsada ina.
- Buruk-buruk ni saong tu aos-aos ni ansuan, molo gabe taon ingkon olo manggarar utang.
- Seak-seak borhu madabu tu bonana, tanda ni anak, patureon ni amana.
- Si idupan do nauli, si saemon do nahurang.
- Ndang suhat be nunga bira, ndang tuhas be nungnga tarida.
- Molo adong unsimmu, dada gaol mu mardo, ai molo adong panuhormu, ndada ho pandobo.
- Rompu tuju, si dua gumo, molo so malo pangulu dapotan duri.
Rompu tuju, sidua gumo, molo malo pangulu dapotan uli. - Siuangkap batang buruk, sibarbar na niampolas.
- Sada umpaka hite, luhut halak marhitehonsa.
- Lulu anak, lulu tano, lulu boru, lulu harajaon.
- Simbar dolok sitingko ulu balang, boi tu hasundutan boi tu habinsaran.
Hata ni andung : Ia mula ni hata andung sian Tuan Sori Mangaraja do i. Alai ido mula ni dungdang, mula ni hata-hata, mula ni saem, parguri-guri si jonggi, parmual sitio-tio, parsagu-sagu nadua sada hundulan, parmombang napitu, nagaram di panggaraman nagurum di pangguruman, natangkas dihata-hata nasungkun di undang-undang. Raja urat ni ubi, raja tiang ni tano nasungsang parmonangan horbo paung ni portibi, natumombang tano Balige. Balige Raja, Balige marpindan-pindan, hamatean ni Niro. Mula ni andung i MINANGSIHON, ima nalaho ibana taripar lautan tu tano Batang Toru mangalului partondung laho manungkun Debata Mulajadi, ala logo ari hatihai, pitu taon lelengna di Toba nabalau.
Songon i muse di namamulung ibana nasa goar ni pulung-pulungan tu tombak, na gabe miak ni parsibasoan, suang i muse nalao ibana tu tano Mandailing, masi ate-ate ni bosi pusu-pusu ni bosi, nagabe surik ni sibaso nabolon i, ima piso solam debata dohot hujur siringis ima nataripar tu si Raja Oloan sian Sibagot Ni Pohan.














